Konsep Manajemen
Pengertian manajemen menurut James AF.Stoner adalah proses
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para
anggota organisasi dan penggunaan sumber-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang
telah ditetapkan.
Manajemen didefinisikan sebagai proses karena semua manajer, tanpa mempedulikan
kecakapan atau ketrampilan khusus mereka, harus melaksanakan kegiatan-kegiatan
tertentuyang saling berkaitan untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka
inginkan. Proses tersebut terdiri dari
kegiatan-kegiatan manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
dan pengawasan. (Definisi lain mungkin mencakup daftar
kegiatan lain yang lebih banyak).
Banyak pendapat mengenai fungsi manajemen, diantaranya sebagai berikut :
1. Henry Fayol, fungsi manajemen yaitu planning, organizing, commanding, coordinating, dan controlling.
2. George R. Terry, fungsi manajemen adalah planning, organizing, actuating,
dan controlling.
3. Luther Gulllich, fungsi manajemen yaitu planning, organizing, staffing, directing, coordinating,
reporting, dan controlling.
4. Ernest Dale, fungsi manajemen yaitu planning, organizing, staffing,
directing, innovating, representing, dan controlling.
5. Koonts & O’donnol, fungsi manajemen yaitu planning, organizing,
staffing, directing, controlling.
6. Oey Liang Lee, fungsi manajemen yaitu planning, organizing, directing, coordinating,
controlling.
7. James Staner, fungsi manajemen yaitu planning, organizing, leading, dan
controlling.
Dalam pembahasan ini akan diperinci lima fungsi yang paling penting yaitu
planning, organizing, staffing, leading, dan controlling kegiatan-kegiatan
organisasi.
1. Perencanaan ( Planning )
Pemilihan dan penentuan tujuan organisasi, dan penyusunan strategi,
kebijaksanaan, program, dan lain-lain.
2. Pengorganisasian ( Organizing )
Penentuan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan, menyusun organisasi atau
kelompok kerja, penugasan wewenang dan tanggungjawab serta koordinasi.
3. Penyusunan Personalia ( Staffing )
Seleksi, latihan, pengembangan, penempatan, dan orientasi karyawan.
4. Pengarahan ( Leading )
Motivasi, komunikasi kepemimpinan untuk mengarahkan karyawan mengerjakan
sesuatu yang ditugaskan padanya.
5. Pengawasan ( Controlling )
Penetapan standar, pengukuran pelaksanaan, dan pengambilan tindakan korektif.
Fungsi pengawasan mencakup empat unsur :
a. Penetapan standard pelaksanaan,
b. Penentuan ukuran-ukuran pelaksanaan,
c. Pengukuran pelaksaan nyata dan membandingkannya dengan standar yang telah
ditetapkan, dan
d. Pengambilan tindakan koreksi yang diperlukan bila pelaksanaan menyimpang
dari standar.
Perkembangan Teori Manajemen
1. Teori Manajemen Klasik
Teori ini memandang bahwa segala sesuatu dalam aktivitas organisasi dan
manajemen didapatkan atas target yang secara kuantitas dapat diukur yang
meliputi :
a. Target waktu
b. Target output / hasil
c. Target biaya, dan
d. Target lain yang secara rasional dapat teridentifikasi dan terukur.
Maka teori ini menekankan adanya standard baku bagi setiap aktivitas manajemen,
yang meliputi :
a. Standard waktu
b. Standard output
c. Standard biaya, dan
d. Standard sistem dan prosedur
Untuk mencapai target dan standard baku, diperlukan pengujian terlebih dahulu
agar aktivitas manajemen dapat memenuhi kedua hal tersebut. Pengujian tersebut
antara lain melalui :
- Studi gerak dan waktu
- Pengawasan fungsional ( functional foremanship )
- Sistem upah per-potong diferensial
- Prinsip pengecualian
- Kartu instruksi
- Pembelian dengan spesifikasi
- Standardisasi pekerjaan, peralatan serta tenaga kerja.
Studi gerak dan waktu bertujuan agar aktivitas manajemen ini dapat bergerak
efisien dan efektif. Apabila dalam implementasi hasil studi gerak dan waktu
tidak menghasilkan sesuai denganyang direncanakan maka perlu diadakan studi
gerak dan waktu yang lebih baik.
Jika diulang berulang-ulang tetap saja hasilnya tidak dapat memenuhi target
yang ditetapkan maka anggota manajemen perlu ada tambahan bonus / intensive
finansial, agar karyawan dapat bekerja lebih baik.
Manfaat yang didapat dari teori ini adalah :
- pekerja akan mengerjakan pekerjaan secara spesifik dan rutin. Sehingga
menumbuhkan ketrampilan dan kinerja tinggi,
- dan juga manfaat dari perkembangan teknik-teknik riset operasi, simulasi,
otomatisasi dan sebagainya dalam memecahkan masalah-masalah manajemen.
Kelemahan dari pandangan ini adalah :
- pekerja akan bosan terhadap pekerjaan yang brulang dan merasa terasing.
Teori ini hasil dari pengalaman empirik dari seorang pabrik elektronik bernama
Frederick W. Taylor (1856 – 1915 ). Teori ini bermula dari pengalamannya
mengamati dan meneliti antara waktu dan gerak yang diperlukan untuk memperoleh
kinerja tertentu.
2. Teori Manajemen Neoklasik
Teori ini mengungkapkan bahwa model yang ditawarkan F.W. Taylor kurang
manusiawi karena manusia dianggap sebagai factor produksi belaka sebagaimana
peralatan atau mesin. Meski ada manfaat yaitu terbentuknya anatomi organisasi
yaitu pada bagan struktur organisasi.
Atas dasar kritik ini Elton Mayo dan asisten risetnya Fritz J. Roethlisberger
serta William J. Dickson mengadakan suatu studi tentang perilaku manusia dalam
bermacam situasi kerjayang sangat terkenal di pabrik Howthorne milik perusahaan
Western Electric dari tahun 1927 sampai 1932. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh antara suasana kerja dengan produktivitas.
Mereka telah membagi karyawan menjadi dua kelompok penelitian. Kelompok pertama
dibiarkan tinggal di pabrik, sedangkan kelompok kedua diletakkan di
ruanganlain.
Kelompok pertama dicoba untuk diubah penerangan / pencahayaannya dari redup ke
terang dan sebaliknya. Hipotesis dari kelompok pertama adalah berubahnya cahaya
akan mempengaruhi produktifitas kerja.
Kelompok kedua tidak dilakukan perubahan pencahayaan. Hipotesis dari kelompok
kedua ini adalah adanya perubahan produktifitas yang disebabkan oleh berubahnya
suasana kerja yang dilihat dari berubahnya cahaya.
Ternyata hasil penelitiannya ini gagal karena hipotesis masing-masing kelompok
tidak terbukti. Namun penelitian ini justru mengungkap model pandanganyang
baru, yakni untuk mencapai produktifitas kerja. Tidak hanya bias didekati
dengan model studi gerak dan waktu namun dapat didekati melalui keeratan
hubungan antar pekerja, karena hasil penelitian menunjukkan : bagi kelompokyang
tidak terambil merasa di nomor duakan di pabrik. Sehingga mereka memacu
aktifitas mereka agar tidak kalah dengan kelompok yang diambil. Perasaan inilah
yang dapat menumbuhkan produktifitas. Teori demikian yang dikemukakan Elton
Mayo dan disebut sebagai Pandangan Kemanusiaan (Human Movement).
Teori klasik dan neoklasik diatas disebut pandangan close
system. Maksudnya tumbuh dan berkembangnya manajemen didasarkan atas kemampuan
internal organisasi. Dan kemampuan internal organisasilahyang mempengaruhi
organisasi lain.
3. Teori Manajemen Modern
Teori ini memandang organisasi sebagai suatu kesatuan, yang terdiri dari
bagian-bagian yang saling berhubungan. Teori ini memberi manajer cara memandang
organisasi sebagai suatu keseluruhan dan sebagai bagian / subsistemdari
lingkungan eksternal yang lebih luas.
Karena organisasi merupakan subsistem, sehingga tumbuh dan berkembangnya
organisasi tergantung seberapa jauh organisasi dapat tumbuh dan mempengaruhi
dan beradaptasi dengan lingkungan. Sehingga jatuh bangunnya organisasi
tergantung seberapa jauh organisasi dapat beradaptasi dengan lingkungan.
Teori manajemen modern cenderung memandang organisasi sebagai system terbuka,
dengan dasar analisa konsepsional, dan didasarkan pada data empirik, serta
sifatnya sintesis dan integrative. System terbuka pada hakekatnya
merupakanproses transformasi masukan yang menghasilkan keluaran. Transformasi
terdiri dari aliran informasi dan sumber-sumber daya.
Meskipun ada beberapa model pandangan ( close system dan open
system ), bukan berarti bahwa pandangan yang lama ditinggalkan karena ada
pandangan baru lebih baik. Tetapi pada saat pandangan modern diberlakukan,
pandangan klasik dan neoklasik juga diberlakukan.
4. Teori Manajemen Kesemestaan
Teori ini lebih luas dari teori sebelumnya. Teori ini memandang bahwa
lingkungan organisasi tidak hanya lingkungan berupa lembaga atau organisasi
lain, melainkan bermakna lebih luas yaitu termasuk lingkungan semesta. Dengan
demikian tumbuh dan berkembangnya manajemen tergantung seberapa jauh manajemen
dapat berinteraksi secara seimbang dengan segmen lingkungan di luarnya.
Teori ini memiliki pokok-pokok pikiran sebagai berikut :
1. Aktifitas manajemen yang tepat guna
- Tepat : manajemen dapat menempatkan dirinya di tengah lingkungannnya. Dan
beradaptasi dengan baik dan sesuai dengan karakter system lingkungan.
- Guna : keberadaan manajemen atau organisasi dapat bermanfaat baik bagi
organisasi maupun lingkungan.
2. Keperpihakan pada strata bawah
3. Pemberian hak secara professional baik bagi para pelaku manajemen internal
maupun lingkungannya
4. Semua aktifitas manajemen didasarkan atas komitmen untuk bekerja lebih baik,
seimbang, dan sehat. Baik sehat bagi anggota organisasi yang memiliki dampak
positif terhadap lingkungan organisasi dan manajemen.
Ada dua sisi pendekatan dalam teori manajemen kesemestaan, yaitu :
a. Sisi makro, dan
b. Sisi mikro.
a. Sisi Makro
Sebagaimana istilah yang dipakai yaitu “kesemestaan”, artinya manusia dan
organisasi merupakan satu kesatuan bagian dari semesta sehingga keseimbangan
atau rusaknya semesta tergantung dari manusia dan organisasinya.
Tugas manusia dan organisasinya pada dasarnya untuk menumbuhkembangkan,
memakmurkan, dan mendayamanfaatkan secara tepat bagi kelangsungan hidup
bersama, yaitu bagi manusia dan orgasisanya sekaligus semesta.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada semesta banyak disebabkan oleh
ketidakteraturnya proses manajemen yang diorganisir oleh manusia. Seperti banyaknya
gejolak alam, gejolak sosial, gejolak politik, gejolak budaya, dan berbagai
bentuk gejolak lain.
Seringkali pandangan sekulerisme menganggap bahwa semesta dan seisinya
semata-mata diperuntukkan pada manusia. Sehingga banyak masalah terjadi adanya
eksploitasi, baik pada sumber daya alam maupun sesama manusia. Seperti banyak
kasus penjajahan secara fisik maupun intelektual. Pandangan sekuler baru ada
sedikit kesadaran untuk menumbuhkembangkan secara seimbang antara manusia
semesta, apabila nyata telah terjadi gejolak dihadapan mereka.
Pandangan manajemen berbasis semesta ini mensyaratkan adanya sebuah
keseimbangan dan tumbuhberkembangnya semua pihak secara wajar. Dan memunculkan
kesadaran berjangka panjang.
b. Sisi Mikro
Pandangan ini terkait dengan tumbuh berkembangnya sisi manusia dalam
berorganisasi. Sosok manusia merupakan sosok yang tumbuh dan berkembangnya
saling memberikan manfaat, baik secara spiritual maupun intelektual, baik
secara rohani maupun jasmani. Yang keduanya berperan penting dalam menumbuhkembangkan
manajemen dan organisasi.
Pada pandangan sekuler, manusia hanyalah dianggap sebagai salah satu faktor
produksi belaka. Sehingga keberadaannya dapat ‘disamakan’ dengan factor
produksi lain, seperti mesin, modal, dan fasilitas organisasi lain.
Sedangkan pada pandangan kesemestaan ( bahwa pandangan ini sebenarnya ingin
menyelaraskan pandangan manusia dengan pandangan Pencipta ), yang mengutamakan
manusia sebagai faktor penentu dari sebuah organisasi, dimana proses kerja
manusia didasarkan atas proses yang dilangsungkan pada manusia dari
penciptanya.
Secara spesifik ada beberapa unsur daya potensi manusia yang dapat
ditumbuhkembangkan. Faktor / unsur tersebut yaitu :
1. Unsur rasa ( feeling )
2. Unsur hati ( deep feeling )
3. Unsur akal ( frame thinking )
4. Unsur keinginan diri (motive, desire, motivation )
Keempat unsur daya potensi ini merupakan daya gerak dan daya dorong bagi
aktivitas manusia. Sehingga arah dari aktivitas manusia untuk menggerakkan
manajemen tergantung dari seberapa jauh manajemen dapat mendorong atau
mengarahkan keempat unsur daya potensi.
Ketidak berfungsinya unsur daya potensi ini mengakibatkan gejolak dalam diri
manusia yang bersangkutan. Sehingga dalam setiap arah dari sisi pengambil
keputusan itu sendiri tak pernah tepat, sehingga berujung pada konflik
manajemen seperti perselisihan ketenagakerjaan, ketidak puasan kerja, stress,
mogok kerja, tingginya kecelakaan kerja, tingginya konflik antara manajemen dan
karyawan, dan sebagainya.
Prinsip dasar dari teori kesemestaan ini adalah keseimbangan.
Maksudnya proses aktivitas manajemen dilandaskan pada pemenuhan hak dari
seluruh anggota manajemen atas dasar modal atau beban yang diberikan ( equity
teori ), baik dalam organisasi bersangkutan maupun dibandingkan dengan
organisasi diluar organisasi yang bersangkutan.
Meskipun imbalan yang diberikan atas dasar beban kerja, namun faktor senioritas
dipakai atas dasar pertimbangan. Teori menghendaki keselarasan antar kelompok
manajemen, pekerja, maupun pemilik perusahaan / organisasi.
Seringkali keseimbangan digambarkan sebagaimana seimbangnya anggota tubuh
manusia yang terlihat memiliki aturan yang rapi, teratur, saling membantu, dan
tanpa konflik.
Ada beberapa metode rekruitmen yang seringkali dipakai untuk
menentukan imbalan pada para pekerja. Metode tersebut, yaitu :
1. Merid system
Yaitu metode yang didasarkan atas prestasi. Hanya yang memiliki kecakapan dan
kemampuan sajalah yang diterima seleksi dalam hal ini yang menerima imbalan.
2. Nepotism
Yaitu metode dalam rekruitmen atau juga bias dipakai untuk memberikan imbalan
karena factor segolongan atau memiliki hubungan lain yang disetarakan dengan
itu.
3. Spoil system
Yaitu metode rekruitmen yang didasarkan atas faktor keluarga atau kekerabatan
atau disetarakan dengan hal tersebut.
LINGKUNGAN BUDAYA DAN ORGANISASI
Konsep Budaya dan Organisasi ( Corporate Culture )
Biasa diberikan pengertian yang menyangkut norma yang dianut oleh seluruh
anggota organisasi dari atasan hingga anggota organisasi yang paling bawah.
Pembentuk kebudayaan bisa dari pemilik organisasi, manajemen, anggota, serta
visi dan misi manajemen.
Lingkungan Eksternal
Yaitu semua segmen lingkungan organisasi yang memiliki potensi untuk
mempengaruhi organisasi / perusahaan, yang terdiri dari :
1. Lingkungan organisasi
2. Suplier / bahan baku
3. Market / pasar
4. Teknologi
5. Perekonomian
6. Lembaga keuangan
7. Hukum
8. Masyarakat
Ada tiga jenis lingkungan, yaitu :
1. Lingkungan selalu berubah
Yaitu adanya kecepatan dan percepatan perubahan lingkungan yang secara umum
mempengaruhi organisasi. Perubahan bersifat acak, sering berubah, dan banyak
elemen yang mempengaruhi.
2. Lingkungan yang stabil
Yaitu lingkungan yang jumlah dan frekuensi perubahannya tidak menunjukkan angka
atau perubahan besarannya mencolok.
3. Lingkungan yang dinamis
Yaitu lingkungan yang mempunyai potensi mempengaruhi organisasi, senantiasa
berubah dengan frekuensi yang cepat. Sehingga perlu organisasi
mengantisipasinya dengan cepat dan sesuai.
Dilihat dari kompleksitas lingkungan ,dibedakan menjadi tiga
kompleksitas, yaitu :
1. Lingkungan komplek
Yaitu suatu lingkungan dengan bermacam-macam faktor lingkungan.
2. Lingkungan sederhana