Minggu, 10 Februari 2013

LEMBAGA SEBAGAI ALAT PERJUANGAN MENUJU SISTEM PENDIDIKAN KERAKYATAN



Belajar dari histori lembaga mahasiswa Indonesia sebagai alat atau wadah perjuangan yakni dengan mengangkat problem pokok mahasiswa dan rakyat. Di mana problem pokok mahasiswa dan rakyat tentu pendidikan yang murah, ilmiah dan demokratis, sehingga mereka yang ekonominya menengah ke bawah juga mempunyai kesempatan mengecap pendidikan di perguruan tinggi, konsep ini dimiliki oleh dewan–dewan mahasiswa yakni kesetaraan dengan pihak birokrat kampus dalam pengambilan kebijakan pendidikan yang sangat langkah ditemui di lembaga-lembaga Intra kampus sekarang ini.

Dewan mahasiswa kemudian dibubarkan setelah terjadinya peristiwa MALARI (Malapetaka 15 Januari 1974), dimana kita bisa melihat tingkat mobilisasi Dema ini dalam mengadakan rapat akbar dalam menyikapi kedatangan Perdana Mentri Jepang KAKUEI TANAKA ke Jakarta mengenai penanaman modal asing. Aksi ini dilakukan oleh hampir seluruh mahasiswa Indonesia. pemerintah yang terganggu ketenangannya, membuat suatu kebijakan yang kita kenal NKK/BKK dan pelarangan mendirikan organisasi selain SMPT hingga SMU (OSIS).

Aktivitas mahasiswa kemudian dikontrol oleh penguasa lewat kaki tangannya yakni pihak Rektorat dan Dosen Pengajar. Mahasiswa kemudian di dorong untuk melakukan kegiatan yang bersifat serimonial, eksklusif atau mengharumkan nama almamater bahkan watak militeristik yang digunakan ketika menghadapi mahasiswa baru, yang menjadi pertanyaan kita kenapa tidak banyak aktivitas atau gerakan mahasiswa yang gencar issu dunianya (sistem pendidikan). Tentu karena tidak adanya pembasisan atau kaderisasi dan lembaga kampuspun hanya sekedar pelaksana kegiatan yang tinggal dilaksanakan atau disetujui oleh rektorat, lembaga hampir tidak punya nilai tawar dengan birokrat kampus, sehingga kepentingan mahasiswa tidak pernah diperjuangkan.

Kecenderungan mahasiswa sekarang yang malas berlembaga, ini diakibatkan dengan adanya represifitas yang dilakukan oleh birokrat kampus terhadap mahasiswa dengan metode yang sering dipakai yaitu :
1.    memperketat absensi kehadiran (kuantitas kehadiran sekitar 80%, jika tidak memenuhi standar demikian maka mahasiswa tersebut tidak dapat mengikuti ujian semester).
2.    Merepresif nilai jika bertentangan atau berbeda pendapat dengan dosen dan birokrat kampus.
3.    Membuat perjanjian sepihak tanpa melakukan diskusi dengan mahasiswa seperti yang terjadi di UNISRI
4.    Merepresif mahasiswa yang kritis dengan metode pemanggilan orang tua/wali.
5.    Menghilangkan demokratisasi ketika mahasiswa menuntut.
6.    Rutinitas tugas (kawan-kawan mahasiswa EKSAKTA yang paling merasakannya) yang membuat mahasiswa hampir tidak punya waktu untuk mempelajari bidang ilmu lainnya.
7.     Pemecatan atau Drop Out seperti yang terjadi di UI Poltek Makassar, Univ. Mulawarman dsb.

Dengan diberlakukannya sistem NKK/BKK, maka mahasiswa secara tidak langsung didorong untuk cepat menyelesaikan studinya, sehingga hampir tidak punya waktu untuk mengkaji berjuta persoalan yang ada diperguruan tinggi. Dan kita kemudian lupa menjawab mengapa pendidikan semakin mahal, tidak ilmiah dan jauh dari nilai demokratisasi? Sepertinya tujuan pendidikan tidak lagi melahirkan manusia-manusia yang utuh melainkan manusia-manusia setengah robot.

Lembaga kampus telah reorientasi dari hakikatnya sebagai lembaga kemahasiswaan yang mengabdi kepada kepentingan mahasiswa dan rakyat banyak. Dimana lembaga kampus sekarang ini hanya melahirkan mahasiswa-mahasiswa seperti berikut ini :
1.    Intelektualis  : golongan mahasiswa yang banyak mengkomsumsi teori  tanpa adanya keperpihakan yang jelas terhadap rakyat.
2.    Aktivisme     : mahasiswa yang ikut ambil bagian untuk melawan rejim namun setela status mahasiswanya berakhir ia kemudian menjadi penindas-penidas baru.
3.    Sektarian  : kelompok mahasiswa yang berjuang hanya untuk kepentingan kelompoknya dan merasa tidak usah mengajak lembaga-lembaga yang lainnya.
4.    Feodal        : Mahasiswa yang terlalu menagungkan senioritas dan merasa dirinya yang paling benar(anti demokrasi).

Kondisi lembaga kampus yang tidak akomadatif untuk mendengar dan memperjuangkan anspirasi mahasiswa tentu tidak bisa dipertahankan lagi. Yang mesti dilakukan segera adalah mempelajari, mengevaluasi dan melakukan perubahan-perubahan dalam sistem kelembagaan sebaga syarat mutlak sebuah lembaga maju. Oleh karna itu selayaknya kita mempelaari bersama konsep SMPT yang sekarang dengan Dewan mahasiwa yang pernah bersejarah dengan adanya kesetaraan antara mahasiswa dan birokrat kampus dimana mahasiwa terlibat langsung dalam penganbilan kebijakan yang didalamnya adalah tentang kurikulum, alokasi dana kemahasiwaan, peraturan akademik bahkan mahasiswa dilibatkan dalam kebijakan ekonomi dan politik pada suatu negara.

Demikianlah essei ini aku persembahkan untuk perubahan yang signifikan dilembaga kita tercinta ini.

JANGAN SAMPAI KITA DISALAHKAN OLEH SEJARAH



Apa yang kita perjuangkan adalah benar Semua propaganda hitam yang di tebar oleh rezim adalah untuk mematahkan perjuangan kita. Rakyat dan kelas pekerja yang kita belah dan kita perjuangkan,adalah pedang tajam yang mengancam kelangsungan penindasan. Perjuangan kita adalah satu dengan penderitaan panjang massa rákyat,perjuangan yang selalu berhadapan dengan kebohongan,kemunafikan, perlakuan tidak adil, terror, penangkapan, penyiksaan, penjara bahkan kematian. Semua itu yang pasti harus dihadapi oleh setiap perjuangan yang sungguh-sungguh.
            Dalam perkembangan perjuangan kita mengalami peningkatan kwalitatif, demikian halnya resiko yang harus di bayar,semula dengan harus berlandaskan komitmen-komitmen moral yang berkonsekwensi rendah. Namun sejarah yang terus berjalan, semakin mendapatkan siraman sinar kebenaran, ketepatan pilihan apa yang harus di kerjakan yang kita dapatkan secara ilmiah bukan mengada-ada seperti hamparan tanah tandus yang kering mendapatkan siraman air hujan dan matahari, menyuburkan tanah tersebut agar berguna buat kehidupan.
Tujuan perjuangan kita adalah kemerdekaan dari semua bentuk penindasan atas dari semua jenis rakyat yang selama ini menderita secara ekonomi,politik,dan budaya. Secara histories semua itu tidak akan pernah datang begitu saja dan gratis atau tinggal sebagai sebuah pesan tapi harus di buktikan oleh setiap orang yang sadar akan hidup yang terus berhadapan dengan agresi kaum penindas yang tidak pernah puas kalau rakyat tidak habis kering darahnya oleh mesin mesin penghisap.
            Kita bukan siapa-siapa, seorang kawan pernah mengingatkan bahwa kita adalah generasi anak haram yang tumbuh dari keharusan sejarah, yang harus setiap hari  mengasah ketajaman otak dan kemampuan kita untuk berhadapan dengan hidup yang semakin lama semakin keras dan memojokan generasi kita ke parit-parit sejarah yang hina dina. Kita hanya harus menempah dan mengasah pedang kita atau dengan sabar perlahan-lahan menunduhkan kepala kita pada tembok kekuasaan yang sombong, dan setiap darah yang mengucur di tembok itu akan mengalir menghidupi bunga yang tumbuh menjalar, yang akan terus merambat,mengukung dan satu saat akan meruntuhkantembok itu. Apa lagi yang jadi takdir hidup kita, ditengah kebuasan penindas.
            Patutkah kita lari,buang muka dari penindasan yang melilit leher rakyat. ?? Let your pain be my sorrow ( Sting ), and the world will be as one  ( John Lenon ) Biarlah surga masa depan menjadi milik kita bersama,bukan menjadi milik sendiri-sendiri. kita bukan siapa-siapa, selain harus tetap pada garis perjuangan yang sudah kita patri bersama-sama dalam sejarah umat manusia. Secara jujur kita harus mengakui , perjuangan yang sudah dirintis bukan milik kita sekarang tetapi milik massa depan, milik rakyat yang kita perjuangkan. Pimpinan-pimpinan  ( yang kita pilih dan tunjuk sendiri ) yaitu kawan-kawan dekat kita,yang sudah mengorbankan hidup mereka dalam penyiksaan fisik,maupun jiwa dan pasti akan menjalani penjara. Semua yang sedang di hadapi adalah pilihan sadar mereka untuk kita semua, untuk massa rakyat yang kita belah dan perjuangkan. Lewat seorang kurir, kawan-kawan pimpinan telah mengeluarkan seruan : Penjara tidak membuat kami jera !! masih ingatkah kita bahwa sebagian besar dari mereka hidup di gerogoti penyakit kronik dari TBC, Radang usus, Lever, Ginjal, Geger otak dll. Ingatkah kita bahwa sebagian dari mereka meninggalkan orang tua dan keluarga yang menyayangi mereka ( sebagian dari mereka dalam ekonomi yang parah ) meninggalkan kuliah harapan ke dua orang tua dan orang orang yang mereka kasihi. Tapi, mereka tetap teguh mngepalkan tangan perjuangan-perjuangan mereka.
            Ketakutan dan kepanikan kita adalah wajar,namun otak yang sudah ada harus bisa mengatasi itu semua. Tidak ada alasan bagi kita untuk mundur , semua teror yang kita hadapi adalah seujung kuku di bandingkan penderitaan yang sudah di hadapi massa rakyat ? Ingatkah kita terror yang di alami rakyat pada tahun 1965,Aceh Maubere, Papua dan lampung ? Terbayangkah kita pada MARSINAH dan jutaan kaum pekerja lainya yang hidup di kolong-kolong terror dan kemiskinan ? semua tragedy manusia Indonesia ada di benak kita dan tidak pernah bisa di hapus oleh air mata dan kata-kata kosong.
Kita telah melawan Kediktatoran Orde Baru semenjak peristiwa Malari 74, 27 juli 96 sampai kita memimpin revolusi penumbangan Soeharto pada tahun 98, barangkali sudah menjadi takdir sejarah dari penindasan kapitalisme, militerisme di Indonesia dan beberapa negara lain bahwa mahasiswalah yang dipilih oleh sejarah untuk memperbaiki kecacatanya. Mungkin sementara sejarah akan berterimah kasih dengan generasi kita, akan tetapi sejarah belum berhenti untuk mencatat, bahkan saat ini sejarah tersebut menggugat kembali pada generasi kita, sebab revolusi 98 hanya menghasilkan penumbagnan Suharto, sebagai bagian dari Orde Baru. Ingat Orde di topang oleh tiga pilar ; Seharto dan birokrasi korupnya, Partai Golkar Mesin Politiknya, Dwi Fingsi TNI Penjaga Stabilitasnya. Revolusi Rakyat yang kita pimpin belum selesai bahkan dicuri oleh oportunis yang tidak tau malu; Reformis Gadungan, masih menyisakan kotoran lama; Sisa-Sisa Orde Baru. Kenapa kita belum sanggup menyelesaikan tugas sejarah tersebut ?—Jawabanya kita tidak perlu menyalakan kelompok Mahasiswa yang memecah gerakan pada saat pendudukan DPR/MPR 98 setelah Soeharto jatuh Bahwa Reformasi telah selesai kata mereka,….Memang betul mereka adalah anjing kaki tangan Orde Baru seperti makian kita selama ini. Atau menyalakan kelompok Mahasiswa di bawah bendera BEM,KAMMI saat ini,…..Memang mereka adalah badut…ya..Badut Orde Baru dan Reformis Gadungan. Tapi mari kita pertanyakan sejauh mana kepeloporan kita dalam mendialetiskan kesadaran dan memimimpin massa rakyat dalam perjuangan Revolusi Demokratik. Jadi saat ini yang esesnsi adalah bagaimana mengorganisir kesadaran mayoritas mahasiswa dan rakyat. Jangan-jangan saat ini karena baru aksi sekali saja dengan tuntutan adili Golkar, kita telah onani dengan klaim subyektif sebagai seorang Revolusioner, bukankah ini adalah sikap manja dan kepengecutan Borjuis kecil kita.
Mungkin ketakutan kita akibat sekap ilusi kesadara Orang Tua atau bahkan kesadran kita kita sendiri yang telah tererosi oleh hegemoni negara, harus cepat kuliah untuk jadi sarjana, dan bekerja menjadi sekrup-sekrup memperkuat kapitalisme, sisa feodalisme dan itu berarti kita ikut memperpanjang barisan perbudakan. LMND barangkali menghalangi atau mengganggu ksarjanaan kita. Mungki kita ingat seorang kawan Andi Arif namanya seorang ketua SMID, yang oleh Orde Baru akibat mempertahankan idealismenya harus dipukuli, di culik, diestrum kemeluannya dan nayaris mati, tetapi ia juga bisa Sarjana sekaligus.
            Perjuangan massa rakyat yang kita pimpin bukan saja berhadapan dengan rezim penguasa,tapi juga berhadapan dengan kaum opurtunis dan munafik yang selalu menjilat penguasa sambil menginjak- injak hak  massa rakyat. Mereka adalah alat-alat penguasa untuk menakuti-nakuti massa rakyat dengan jampi-jampi setanya. Perjuangan kita juga berhadapan dengan penghianatan dari elemen-elemen penetrator yang berusaha merusak dan menghancurkan gerakan massa rakyat dari dalam, yang tertawa terbahak-bahak melihat terror menimpah kita. Mereka juga bisa berbicara sama tentang pembebasan massa rakyat dan demokrasi, namun tangan mereka belum kering oleh darah massa rakyat yang telah mereka bantai mereka akan tertawa berjingkrak-jingkrak kesenangan melihat kita jirih,dan akan berpesta pora untuk merayakan kemenangan mereka bersama resim sambil menyanjung-nyanjung pimpinan-pimpinan boneka mereka yang akan menjadi penipu – penipu baru buat rakyat ! kelak pada saat rezim tumbang dan rezim boneka baru berkuasa maka massa rakyat akan dua kali lebih menderita, karena kemenangan yang seharusnya di rebut oleh rakyat telah di rampok untuk kemudian di gunakan membantai perjuangan massa rakyat lagi.
            Mata hati kita tidak akan di tipu, namun memang sulit dan melelahkan untuk membangun masa depan yang berdaulat bagi massa rakyat !memang, beberapa tokoh democrat yang tadinya yang dekat dengan kita, kini,sekarang ikut-ikutan menginjak kita.mereka ikut ketakutan dan memilih lebih baik jauh dari kita.Watak yang demikian yang dari dulu mengililingi gerakan massa rakyat yang kita bangun selama ini. Dahulu mereka memeras keringat kawan-kawan kita. Menjadikan pekerjaan kita menjadi proyek-proyek dana mereka. Sambil sesekali hadir di tengah perjuangan massa dan menunjukan komitmenya terhadap perjuangan rakyat, mereka racuni beberapa elemen-elemen opurtunis di dalam tubuh gerakam untuk kemudian menjadi kaki tangan mereka yang setia. Dan semuanya telah menjadi darah dan daging merekaadalah keringat kerja keras kita membangun massa rakyat.
            Namun kini apa yang mereka lakukan adalah dengan menganggap LMND kita sebagai kurap yang patut di jauhi, Beberapa dari mereka ikut mencaci  dan menista kita,  dibilang liga sepakbolah dan lainnya. Padahal kita hanya meminta sedikit hasil curian mereka dari para kapitalis internasional. Mereka akan tidak perna jujur terhadap keadilan dan menghargai sopan santun berpolitik karena mereka lahir dari rahim yang sama dengan kita, rahim orde baru, Cuma tulang dan darahnya yang saja kotor oleh moderasi uang dan karir, yang menghamburkan uang rakyat di club-club malam bersama sekretaris mudanya,rumah bordil dan diskotik, sepulangnya dari kantor mereka yang ber-AC
            Viva kaum pro-demokrasi ! perjuangan dan tingkahmu akan kami kenang, kaum seperti mereka tidak pernah akan habis dan akan selalu mengganggu gerakan massa rakyat kapanpun dan di manapun mereka ! mereka akan selalu mengintip kita setiap kesempatan yang bisa mereka colong,dengan air liur menetes seakan melihat gerakan demokrasi sebagai dewi yang bisa sewaktu-waktu di ajak kencan,digilir atau di paksa di perkosa. Itulah mereka yang kini penuh kebencian menatap kita saat mengetuk pintu rumah mereka. Watak ini wajar tumbuh dan membesar di iklim demokrasi pancasila orde baru ini. Mereka tidak segan-segan berkolaborasi dengan rezim penindas atau dengan pemilik modal atau kekuatan asing imprialisme !
            Kita tidak sama dengan mereka, dan kita tidak akan tunduk dengan mainstrem mereka kita tidak akan tunduk atau pada barisan opurtunis itu, penderitaan yang kita sudah telan selama ini mengarjakan kita untuk mandiri dan setia teguh pada perjuangan massa rakyat.Sejengkalpun kita tidak pernah mundur ! kita berjuang bukan karena uang atau karir politik tapi hanya untuk kemenangan massa rakyat dan demokrasi yang sejati…!!!!!!
Akhirnya  saya mengutip sepotong kalimat kawan-kawan demonstarn Cina pada peristiwa Tiangnamen.
Prestasi Akademik itu memang penting
Gelar sarjana juga sangat penting
Akan tetapi Tampa Demokrasi semua itu tidak berharga apa-pa.

HARGA SEBUAH KECERDASAN



Ketika seorang anak SMU atau yang sederajat telah dinyatakan lulus, maka sebahagian besar dari mereka  akan mempunyai impian agar dapat diterima dibangku Universitas Negeri dimana mereka dapat mengenyam sebuah pendidikan yang berbeda dari yang biasa mereka dapatkan selama beberapa tahun.
Terpancar dari mereka sebuah kesenangan atau malah sebuah kebanggaan semu akanidahnya sebuah keidupan yang penuh dengan dinamika dan retorika-retorika yang mampu menggoyang rezim sang penguasa. Terrbayang di benak mereka sebuah diskusi dipojok-pojok ruanga ditemani dengan segelas kopi yang dikeroyok oleh beberapa orang. Belumlagi piukiran-pikiran romantis yang telah banyak mereka dengar dari kakak mereka, sebagai selingan dikala sedang mengikuti rapat-rapat atau pertemuan pertemuan yang diadakan oleh lembaga kemahasiswaan. Ataupun juga pikiran tenang interaksi antara dosen dan mahasiswa dalam membahas suatu persoalan tang didapat.
Bagitu mereka yang doa dan impiannya terwujud, maka dengan semangat yang menyala-nyala mengurus segala sesuatu yang diperlukan. Setelah itu mereka mealui sebuah prosesi penerimaan mahasiswa baru yang melibatkan mahasiswa yang lebih dahulu menginjakkan kaki di universitas ketimbang mereka. Rasa kagum nampak dari wajah mereka yang lugu sebagai mahassiwa baru. Perasaan bangga tergambar dari cara mereka meneriakkan slogan-slogan kebesaran fakultas atau universitas yang disuruhkan oleh senior mereka. Seluruh rangkain penerimaan mahasiswa baru mereka lalui dengan kesungguhan.
Tetapi kebangga itu tidak berumur panjang. Selang beberapa bulan kemudian, dimana mereka telah banyak melihat, mendengar dan merasakan sana sini tentang kondisi yang mereka dapatkan nanti, maka mereka mulai kehilangan orientasi. Dan akhirnya, prestasi belajar mereka mampu bertahan sampai tiga atau empat semester. Ada apa disini?
1.    Penyempitan Pemikiran
Seorang dosen, ketika membuka oertemuannya dngan mahasiswa akan memberi gambaran serta beberapa buku yang wajib di baca oleh mahasiswa. Bahkan dalam perkuliahan selanjutnya pun sang dosen memberikan materi yang mau tak mau harus diucata oleh mahasiswa. Karena tekun dan mempunyai daya analisis yang baik, maka maasiswa tidak ragu ketika akan menghadapi ujian. Semua pertanyaan dijawab dengan baik. Rasa keyakinannpun muncul bahwa ia akan memeperoleh nialai yang memuaskan dirinya. Tetapi ketika ia melihat penguuman nilai, ternyata nilai yang ia peroleh tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Disini ternyata telah terjadi proses doktrinisasi. Apa yang diucapkan oleh dosen, maka itulah yang harus dihapal.
Seorang mahasiswa akan menjadi malas membaca buku dan menganalisis sesuatu permasalahan, karena ini ternyata tidak memberika jaminan bahwa nilainya akan memuaskan. Sehingga yang tercipta adalah kebiasaan menghapal catatan yang berasal dari dosen. Atau dengan jalan pintas, membawa catatan kecil keda;lam ruangan yang akan dijadikan senjata andalan untuk menghadapi soal-soal yang terkadang sampai puluhan nomor.
2.    Mutu Tenaga Pengajar yang Rendah
Setelah mahasiswa mengalami penyempitan pemikiran, mereka kembali diperhadapkan dengan tenaga-tenaga pengajar yang mutunya betul-betul memperihatinkan. Terkadang seorang dosen tidakmemperhatikan gaya bahasa yang menarik perhatian mahasiswa atau metode dalam dalam menyampaikan suatu informasi kepadsa mahasiswa ternyata tidak tepat.dosen sering kali menyamaratakan antara kuliah saat pagi hari dengan kuliah siang hari atau sore hari. 
3.    Tidak adanya Transparansi
Terkadanng seorang mahasiswa menguasai dan menghapal seluruh bahan kuliah yang diberikan oleh dosen untuk persiapan ujian. Mahasiswa ini juga adalah mahasiswa yang tergolong sebagai mahasiswa yang rajin, baik menghadiri kliah maupun dalam hal mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen kepadanya. Ketika ujian berlangsung, semua soal ia kerjakan dengan baik tanpa cela . Tetapi ketika pengumuman, ternyata dia dinyatakan tidak lulus. Sebaliknya ada  mahasiswa yang sangat berlawanan dengan ciri-cirinya dengan mahasiswa di atas, justrumeluakan kegembiraannya karena lulus dengan nilai yang baik.
Sebuah tanda tanya besar menghadang. Bagaimana kriteria dpsen dalam menilai ? mengapa tidak pernah ada transparansi dari dosen sehingga mahasiswa dapat melihat dimana kekurangannya ? dan mengapa dosen seperti ini tidak dapat dituntut?
4.    Semester Pendek
Ternyata ketidak lulusan tidak membuat mahasiswa berputus asa , karena masih ada mahluk yang bernama semester pendek yang hadir setiap tahun diakhir semester genap.  Dengan membayar sesuai dengan ketentuan yang berlaku (katanya!!) maka mahasiswa dapat memperbaiki nilainya dengan mengambil mata kuliah yang tidak lulus. Tapi pihak universitas lupa-lupa bahwa tidak semua mahasiswa tergolong dalam keluarga mampu, apalagi disaat “lapar” sekarang ini. Jangankan untuk membayar SPP dan semester pendek , untuk kebuthan hidup sehari-hari saja sudah sabgat payah
Entah disengaja atau tidak, keempat faktor diatas sepertinya tersusun dengan sangat tersrukturdan terencana. Tapi apakah ada rencana besar di balik itu?

MEMBANGUN INTEGRITAS GERAKAN MAHASISWA



Posisi mahasiswa memegang peranan yang sangat signifikan dalam perubahan, dalam hal ini mahasiswa sebagai barisan pelopor dalam perubahan. Posisinya yang signifikan ini menyebabkan banyaknya kepentingan yang berlomba-lomba untuk masuk dan berpengaruh dalam dunia kemahasiswaan. Dunia kemahasiswaan memang bukanlah dunia yang netral, dimana hanya berkutat pada pendidikan semata, tapi sekali lagi sebuah dunia yang sarat akan kepentingan dan dibelakang itu semua, terdapat kekuatan besar yaitu kekuaan ideologi dominan yang menghegemoni saat ini. Mahasiswa kemudian tidak lagi menjadi kekuatan kontrol dalam negara, tetapi malah menjadi kekuatan yang mem-back up kekuatan dari sekelompok/segolongan orang dengan kepentingannya masing-masing.

BERCERMIN DARI SEJARAH
            Sejarah telah membuktikan pada kita bahwa kekuatan yang mampu mengadakan perubahan dinegara ini (tanpa menafikkan kekuatan elemen rakyat yang lain) adalah kekuatan massa mahasiswa. Massa mahasiswa yang tumpah kejalan-jalan, pusat-pusat pemerintahan dan instansi-instansi pemerintahan lainnya itulah yang mendesakkan tuntutan-tuntutan perubahan kepada pemerintah, meskipun perjuangan tersebut harus dibayar dengan darah dan air mata. Sejarah telah mencatat pula nama-nama yang telah menjadi martil perubahan di negeri ini.
            Gerakan mahasiswa indonesia dari dulu sampai sekarang selalu mengalami pasang surut gerakan. Ini karena gerakan mahasiswa selalu mengikut pada momentum. Pada saat ada momentum, gerakan mahasiswa tiba-tiba menjadi massif,  tetapi kalau tidak ada, maka gerakan akan hilang. Mahasiswa kemudian tidak mampu menjaga konsistensi gerakan.
            Tahun 1966  yang sering menjadi bahan pembicaraan yang hangat apabila berbicara tentang gerakan mahasiswa indonesia, menyisakah banyak pelajaran bagi kita, khususnya dalam mengolah gerakan. Pelajaran tersebut antara lain:
1.      Harus menjaga konsistensi gerakan. Dalam artian bahwa persoalan yang dihadapi bukan sekedar  mulai melakukan perubahan, namun yang paling penting adalah menyelesaikan perubahan sesuai dengan arah perubahan yang diinginkan. Jangan karena euforia kemenangan sesaat, maka kita lalu melupakan persoalan selanjutnya. Kita lihat, ditahun 65-66, setelah berhasil menumbangkan sukarno, gerakan mahasiswa lalu menjadi surut, dan mahasiswa kembali kekampus dan mulai kegiatan-kegiatan akademis, rekreatif, dsb. Mahasiswa melupakan persoalan bahwa masalah bukan sekedar menumbangkan rezim, namun setelah itu mahasiswa harus terus mengawal agenda-agenda perubahan sampai terbentuknya suatu pemerintahan yang betul-betul demokratis. Ini yang tidak dilakukan oleh mahasiswa saat itu. Dan ironisnya, peristiwa ini kembali terulang di tahun 1998, dimana mahasiswa memposisikan dirinya sebagai dewa penyelamat yang muncul ketika ada masalah dan pegi begitu saja ketika masalah telah diatasi.
2.      Koloborasi gerakan mahasiswa dengan militer, sangat  merugikan gerakan mahasiswa sendiri. Ini bisa kita lihat, bahwa setelah peristiwa tersebut, militerlah yang kemudian menikmati kemenangan dari gerakan mahasiswa yang kemudian memunculkan suharto sebagai pahlawan yang kemudian berkuasa, menguras hasil bumi dan menindas rakyat indonesia selama 32 tahun. Koloborasi ini juga menghilangkan jiwa kepeloporan dalam gerakan mahasiswa. Kita tentu tahu, sebagai institusi pemerintah dan sebagai alat pertahanan keamanan negara, militer memiliki sistem, organisasi dan perangkat manajemen organisasi  yang mapan, kuat dan sistematis dibandingkan mahasiswa yang hanya bermodal semangat, idealisme. Jelas, ketika mahasiswa dan militer berkloborasi, maka hasilnya hanya akan dinikmati oleh militer, sedang mahasiswa akan diarahkan masuk kekampus dengan seabrek peraturan-peraturan yang yang dikekangkan. Kecenderungan kita untuk tidak bergabung dengan kekuatan militer, bisa kita analia dari pendapat Lucian W. Pye dalam bukunya Political Parties and Political Development, yang menjelaskan keterkaitan hubungan sipil dengan militer, yaitu;
~    Pola perkembangan dimana militer memainkan peranan yang menonjol karena didalam masyarakat yang tidak stabil, militer merupakan satu-satunya unsur yang terorganisir secara efektif yang mampu bersaing untuk memperoleh kekuasaan politik serta mampu membentuk kebijaksanaan umum.
~    Dimana militer secara formal sementara mendukung pembangunan demokrasi, etapi sebetulnya memonopli arena politik serta memaksa elit politik yang muncul dimana saja untuk memusatkan perhatiannya khusus pada persoalan sosial dan ekonomi.
~    Militer sebagai suatu organisasi yang modern dimasyarakatnya, mengambil alih peran administrasi dan pengawasan.
Jadi jelas bahwa uluran tangan kerjasama dari militer merupakan cara mereka untuk merangkul elemen-elemen gerakan yang ada untuk kemudian mengambil kesempatan untuk menelikung kemenangan yang telah diperoleh.