Rabu, 27 Februari 2013

AKTUAL: KURIKULUM MEMBERATKAN, MURID JADI KORBAN

Psikolog Sartono Mukadis, menilai, sudah waktunya pendidikan di Indonesia tidak lagi menjadikan murid sebagai objek tetapi subjek pendidikan. Selama paradigma murid adalah objek tetap dipelihara, maka murid serta walinya akan terus menjadi korban dan "sapi perahan" sekolah. Ironisnya lagi, murid sekolah terus-menerus dibenani kurikulum pendidikan yang tidak masuk akal beratnya, seperti sudah jatuh tertimpa tangga.
Ditambah lagi dengan banyaknya guru yang sewenang-wenang dan menjadi "hantu" bagi murid, sehingga tidak sedikit anak yang takut sekolah dan takut mengikuti pelajaran. "Paradigma itu harus diubah, dan sekarang pelan-pelan saya lihat sedang terjadi. Paradigma pendidikan satu arah yang berorientasi pada target Ebtanas harus diganti. Pendidikan bukanlah sesuatu yang langsung jadi. Pendidikan adalah proses panjang sepanjang hayat," ujar Sartono kepada Pembaruan, di Jakarta.
Sartono menyatakan bersyukur karena sistem peringkat di sekolah sudah dihapus setelah dirinya ikut memprotes selama 20 tahun penerapan peringkat kelas. Pasalnya, peringkat merupakan penghinaan kepada siswa. Anak yang pandai matematika, belum tentu juga pandai dalam olahraga.
Adanya peringkat sekolah, katanya, berarti sekolah menghapus semangat bertanding murid dengan diri mereka sendiri. Guru seharusnya memuji setiap prestasi dan memicu semangat belajar anak didik. Untuk mencapai paradigma itu harus memenuhi berbagai syarat. Jangan malah menjadi "hantu" yang menakutkan anak.
Menurut Sartono, pendidikan yang paling berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak adalah di tingkat sekolah dasar (SD). Jadi, jangan lagi guru SD direkrut secara asal-asalan, guru di SD harus betul-betul berkualitas.
Diingatkan pula, janganlah bermimpi bahwa mendidik anak itu tugas guru semata, dan perlu diingat bahwa belajar dan mendidik itu juga berarti bermain. Selama di rumah, orangtua harus membuat suasana belajar sambil bermain dalam setiap kesempatan. "Prinsip sekolah tanpa dinding itu yang terpenting. Guru harus mengajak anak untuk terus bertanya, dan mencari jawaban dari daya analitis dan kritis. Guru harus mengizinkan anak didiknya berpikir beda. Janganlah orangtua atau guru memberhalakan atau menjadikan IQ sebagai Tuhan," ujarnya.
Mutu pendidikan di Indonesia, menurut Sartono, masih sangat menyedihkan. Rendahnya mutu tersebut, lama kelamaan akan membahayakan masa depan bangsa. Lewat jalur pendidikan, diharapkan para orang muda atau peserta didik nantinya dapat bertahan hidup di tengah masyarakat.
"Akan lebih berguna apabila kita bertanya secara positif, apa yang kita harapkan dari pendidikan kita sekarang ini? Apakah para guru telah menjalankan tugasnya dengan baik di dalam kelas sehingga dia tidak menjadi hantu yang menakutkan bagi para murid," ucapnya. Dikatakan, pendidikan yang diberikan para guru itu harus menyangkut seluruh aspek kehidupan, bukan hanya daya hafalnya.
"Mendidik manusia seutuhnya itu tidak seperti itu. Jika hanya mentransformasikan ilmu, sama saja kita menganggap anak didik itu robot atau komputer yang diisi program-program,'' tuturnya. Menurutnya, untuk membentuk manusia seutuhnya itu adalah dengan membantu siswa agar ia diperkuat dalam kepribadiannya yang lebih bermoral, agar ia belajar membawa diri dengan percaya diri, sekaligus sopan, sehingga dapat mengembangkan suatu wawasan yang memahami situasi lingkungan alam dan sosialnya. Ditambahkan, kita ingin mendidik anak yang terbuka, yang mempunyai wawasan luas, yang tahu bahwa dalam masyarakat Indonesia hidup orang dari berbagai suku, budaya, dan agama, serta dapat bergaul antara yang satu dan yang lainnya. Tidak sektarian atau memiliki sikap fanatisme berlebihan.

BENARKAH INDONESIA TELAH MERDEKA ?



Oleh. Vladimir Ake

Indonesia telah lama merdeka dari penjajahan bangsa asing tepatnya pada tanggal 18 agustus tahun 1945 yang ditandai dengan pembacaan teks proklomasi oleh sukarno dan dirayakan oleh bangsa Indonesia tiap tahun pada tanggal yang sama. Akan tetapi akankah rakyat pada zaman sekarang ini secara umum merasakan kemerdekaan seperti harapan para pahlawan kita. Seandainya mereka masih hidup Mungkin Ki Hajar dewantara akan menangis melihat Mahalnya pendidikan kita sehingga orang miskin tidak dapat menjangkaunya. Dr wahidin akan bersedih melihat tingginya biaya kesehatan dinegeri ini sehingga rakyat harus diusir dari rumah sakit. Dan KH. Ahmad Dahlan akan merasah gelisah melihat elitisnya sebagian para ulama kita yang telah melacurkan dirinya untuk kepentingan pribadi, serta berbagai pahlawan – pahlawan kita yang akan menyesal mendirikan republic ini.]
Memperhatikan tujuan dari Negara kita yang termuat dalam pembukaan UUD 45 merupakan legitimasi awal untuk menjustifikasi apakah kita terjajah pada hari ini. Sebagaimana inti dari bahasa tersebut adalah terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, aman, dan sejahtera. Sehingga apapun alasannya subtansi dari kemerdekaan tersebut adalah masyarakat sebagaimana dimaksud. Sehingga siapapun yang memimpin Negara ini harus mengarahkan pada tercapainya tujuan tersebut. Namun ketika melihat realitas tersebut jauh dari harapan, Kemiskinan makin melonjak, jika memakai standar internasional mencapai setengah dari penduduk Indonesia. Sehingga mengakibatkan Pengangguran makin takteratasi, munculnya berbagai penyakit seperti gisi buruk, busung lapar dan berbagai penyakit lainnya, serta konflik social yang terjadi diberbagai daerah. Hal ini juga diperparah dengan kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada rakyat, naiknya BBM, imporberas, Privatisasi aset – aset Negara, penggusuran diberbagi daerah dengan alasan keindahan kota, dan yang paling parah adalah KKN yang dilakukan oleh birokrat dinegeri ini mulai dari tingkat pusat sampai RT. Realitas tersebut bagaikan benang kusut dan lingkaran setan yang tidak diketahui dimana ujungpangkalnya. Melihat fenomena tersebut akankah kita masih bisa tersenyum dan mengatakan kita merdeka. Buseet………..
Mempertanyakan makna kemerdekaan kita dalam konteks sekarang merupakan suatu keharusan. Benarkah dinegeri ini ada keadilan ketika yang kaya semakin dikayakan dan yang miskin selalu dimiskinkan, baik dalam konteks ekonomi, social maupun pelaksanaan hukum, kita mungkin masih bisa menyaksikan pencuri beras sekilo mati di hakimi massa ketimbang para pencuri uang Negara yang korup melakukan piknik keluar negeri. Benarkah ada kesejahteraan dinegeri ini ketika fenomena busung lapar melanda negeri yang kaya sumber daya alamnya. Dan benarkah ada keamanan yang dirasakan rakyat ketika konflik social sewaktu – waktu dapat terjadi baik itu antara penegak hokum sendiri (polisi melawan TNI), maupun antar masyarakat, Antar mahasiswa akibat SARA PILKADA dan PEMILIHAN REKTOR. Dan terakhir mungkin kita akan benarkan negeri ini kita bubarkan saja dulu untuk sementara.
Menjawab pertanyaan terakhir diatas harus dimulai dengan menjawab pertanyaan lainnya diantaranya masikah ada kemungkinan memperbaiki kondisi yang terburuk yang dialami bangsa Indonesia?. Jawaban dengan optimis merupakan jawaban yang sering sekali kita diperdengarkan oleh para pejabat dalam setiap seminar di hotel – hotel bintang lima yang biasanya membahas tentang kemiskinan, jawaban optimis juga sering diperdengarkan dalam mulut juru kampanye politik (Presiden sampai RT), serta optimesme juga di lantungkan oleh ulama kondang dengan menyarankan kita berdoa dan berzikir ditengah lapangan sambil meneteskan airmata. Akan tetapi optimisme yang merekan tunjukkan hanyalah kamuflase yang keluar dari mulut penghianat dinegeri ini. Namun mencari harapan dari secercah keinginan untuk memperbaiki apa yang salah dinegeri ini. Mencari akar masalah dari seluruh fenomena yang melanda negeri ini baik itu social, politik, budaya dan agama merupakan suatu keharusan.
Banyak diantara kita menganggap bahwa yang menyebabkan negeri terpuruk adalah merebaknya KKN yang dilakukan oleh petinggi dinegeri ini, pernyataan seperti ini tidaklah semuanya salah, akan tetapi kita dapat mengatakan bahwa KKN di negeri ini merupakan salahsatu yang memperburuk kondisi, karna jika kita melihat berbagai Negara seperti India, Cina, Korea memiliki indeks KKN yang sama tingginya dengan indonesia akan tetapi masyarakatnya jauh lebih makmur dan sejahtera ketimbang Indonesia dari tinjauan ekonomi (Awalil Rezki:2005). Begitupula dengan masalah – masalah lain yang merupakan efek dari ketidak stabilan ekonomi dinegeri ini, karna perlu dipahami bersama bahwa dalam konteks sekarang ini kondisi ekonomi dapat mempengaruhi kondisi dan situasi yang lain. Oleh sebab itu peranan ekonomi menjadi incaran dan daya tarik Negara maju untuk melanjutkan kembali penjajahannya.
Penjajahan memang telah berlalu, kita sudah mengatakan merdeka walaupun sebagian besar masyarakat tidak pernah merasakan kemerdekaan karna dililit kemiskinan. Para penjajah memang telah pergi meninggalkan Indonesia tetapi mereka mewariskan kepada generasi bangsa ini sebuah ideology penjajah yang dikenal dengan kapitalisme yang telah dipraktekkan oleh para penguasa untuk kembali menjajah rakyatnya sendiri. Kalau sebelumnya penjajahan dalam bentuk fisik maka sekarang penjajahan dilakukan dalam bentuk ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah dinegeri ini dengan bekerjasama dengan Negara – Negara maju dalam bentuk pemberian utang luar negeri dengan bunga yang tinggi dan diiringi dengan kesepakatan yang hanya menguntungkan pemberi utang. Salahsatunya kesepakatan itu adalah menghilangkan subsidi kepada rakyat. Utang indonesia telah mencapai kurang lebih1400 trilyun rupiah yang jika dihitung setiap penduduk menanggung beban 10 juta. Keberadaan utang tersebut mengaharuskan sebagian besar APBN Negara dialokasikan untuk membayar utang sehingga alokasi untuk kepentingan rakyat seperti pendidikan, kesehatan dan pemberantasakan kemiskinan semakin terabaikan.
Bentuk penjajahan yang dilakukan oleh Negara maju melalui lembaga – lembaga donor dalam jeratan utang luar negeri merupakan strategi baru dalam melakukan penjajahan. Indonesia yang memulai dizaman orde baru untuk menerima utang dan dilanjutkan sampai sekarang telah membuat penderitaan kepada rakyat. Belum lagi dari sekian banyak utang itu hampir mencapai 30 % dikorupsi oleh pejabat. Dapat juga dikatakan bahwa idiologi yang dipakai penguasa kita dalam menyelenggarakan Negara, hanya menguntungkan sebagian kecil mesyarakat indonesi. Melihat fenomena tersebut maka masihkah kita mengatakan bangsa ini telah merdeka.
Jadi dapat kita katakana bahwa salahsatu akar masalah dari terpurukya bangsa ini, karna terintegrasinya Indonesia dalam sebuah tatanan global yang mengharuskan negeri ini menjadi negara yang patuh dan taat pada arus kepentingan global.Atau dengatakan bahwa kita masih terjajah oleh bangsa asing yang telah berkoalisi dengan pemerintah dengan model penjajahan yang baru yang kita sebut dengan neoliberalisme, dengan indikator terintegrasinya indonesia dalam tatanan ekonomi global dan pasar bebas. Efek yang dapat kita amati adalah perjanjian yang dilakukan pemerintah dengan pemberi utang yang mengikat dan tidak transparan yang melahirkan kebijakan pemerintah yang hanya memihak kepada kepentingan pemegang modal (MnSc dan TnSc) yang menjadi otak dari seluruh penjajahan ekonomi yang ada didunia ketiga seperti indonesia. Lahirnya kebijakan kenaikan BBM akibat perjanjian pengurangan subsidi kepada rakyat. Pengelolaan Sunber Daya Alam oleh pihak asing seperti PT Inco, PT Frepoot, serta bebagai sumber minyak di negeri ini dikelola oleh pihak asing yang hasilnya hanya untuk kepentingan mereka dan penguasa dinegeri ini.
Sebenarnya pelaksanaan agenda-agenda penjajahan neoliberal telah dimulai sejak pertengahan 1980-an, antara lain melalui paket kebijakan deregulasi dan debirokratisasi pelaksanaannya secara massif menemukan momentumnya setelah Indonesia dilanda krisis moneter pada pertengahan 1997. Menyusul kemerosotan nilai rupiah, Pemerintah Indonesia kemudian secara resmi mengundang IMF untuk memulihkan perekonomian Indonesia. Sebagai syarat untuk mencairkan dana talangan yang disediakan
 
UPAYA PERLAWANAN

indonesia telah lama merdeka, akan tetapi kemerdekaan tidak sepenuhnya dirasakan oleh seluruh bangsa indonesia. Kemerdekaan hanya dinikmati oleh para elit – elit politik dan para pengusaha koruptor dinegeri ini. Hal tersebut dapat dilihat dari angka kemiskinan dinegeri ini, kekacauan sosial, pengangguran yang diperparah dengan makinesme dan kinerja pemerintahan yang telah melakukan penjajahan dinegeri ini. Bentuk penjajahan tersebut merupakan hasil kerjasama dengan negara – negara maju dalam bentuk ekonomi dan mempengaruhi bidang – bidang lain. Inilah yang kita sebut penjajahan bentuk baru atau neoliberalisme.
Gerakan perlawanan terhadap neolib harus dilakukan secara trategis, mengingat bentuknya yang tidak nampak secara fisik akan tetapi muncul sebagai sebuah kebijakan – kebijakan ekonomi seperti regulasi, liberalisasi, dan privatisasi yang mempengaruhi berbagai ketimpangan sosial dan senantiasa menyelinap dalam setiap sendi kehidupan kita: ekonomi, politik, budaya, bahkan agama. beragam metode dan model gerakan harus dipadukan. Mulai dari gerakan moral-kultural, penguatan struktural, maupun pembaharuan perundang-undangan.
Tentu saja, sebagai bentuk kepedulian sosial, mahasiswa harus tetap memunculkan solusi untuk masalah yang melanda ummat manusia khususnya negara indonesia ini. Karena, kita masih berkeyakinan bahwa mahasiswa memiliki kemanpuan baik secara konseptual dalam konteks praktis (aksi). Dan secara ideologis mahasiswa (maaf, Cuma sebahagian) masih menyimpan nilai – nilai keidealan sehingga gerakannya masih dapat dipertanggunjawabkan secara moral. Keidealan itulah yang perlu menjadi landasan gerak manusia dalam melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan dari berbagai kebijakan neolib didunia ini sebagaimana funsinya sebagai kontrol sosial, pelanjut perubahan dan pemberi contoh moral yang baik ditengah – tengah masyarakat. Dan hal ini juga dapat dilihat dari tridarma perguruan tinggi dimana mahasisiwa mendapatkan identitsnya sebagai bentuk pengabdian masyarakat.
Begitulah, sesungguhnya memang sudah saatnya mahasiswa tidak lagi diletakkan sebagai kesadaran kognitif yang hanya bergerak pada wilayah Akademis. Akan tetapi harus mampu menjadi kesadaran sosial dalam melakukan inspirasi, aspirasi dan motivasi dalam menanggapi setiap persoalan yang menimpa ummat manusia dan mampu menyelinap dalam perbaikan pada ruang-ruang kultural dan struktural sosial masyarakat. Dan itu artinya, mahasiswa harus mengambalikan identitasnya sebagai pelanjut perubahan.

Gerakan moral cultural

Walaupun dalam konteks sekarang gerakan moral kultural telah dianggap kurang efektif dan efesian mengingat kompleksnya persoalan yang harus diselesaikan secara cepat, akan tetapi gerakan ini tetap diperlukan sebagai upaya penyadaran korban penindasan untuk jangka panjang. Hal yang perlu dilakukan dalam konteks sekarang adalah modifikasi terhadap gerakan tersebut. Jika selama ini gerakan mahasiswa bersifat reaksioner dalam menyikapi persolan, maka perlu pendekatan secara analitis dalam konteks saat ini. Penyadaran sosial yang selama ini dilakukan dalam tingkatan elit mahasiswa, maka dalam konteks sekarang penyadaran akan lebih jauh pada tingkat masyarakat secara umum.
Pergerakan dalam tingkat kultur diharapkan dapat membangun kesadaran secara kolektifitas masyarakat dalam memahami persoalan yang dihadapi akibat kebijakan pemerintah/negara yang memihak pada agen – agen neoliberalisme atau TnCs dan MnCs. Naiknya harga pupuk yang menyensarakan petani akibat kebijakan pengurangan subsidi, pembangunan supermarket dan tempat – tempat pembelanjaan elit seperti mal – mal telah merugikan produksi dan pedagang lokal, pendirian pabrik – pabrik industri yang menggusur penduduk dan sebagainya yang merupakan efek dari neolib, Oleh sebab itu Adalah tugas seorang mahasiswa yang mengaku intelek dalam melakukan provokatif terhadap masyarakat dalam tingkat kultur untuk melakukan perlawanan. Gerakan moral kultural juga diharapkan dapat memperkuat tatanan budaya lokal. berbagai hegomoni budaya yang selalu mengikuti kepentingan pasar bebas yang menjadi agenda neolib paling tidak telah banyak pemporak – porandakan tatanan budaya lokal

Senin, 18 Februari 2013

Teori Organisasi



Seperti halnya teori yang lain, pemahaman teori organisasi diawali dari kata “organisasi” itu sendiri. Organisasi diambil dari kata “organon” (Yunani) yang berarti alat, yang bisa kita terjemahkan sebagai sekumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama. 
Jadi ada dua hal yang penting di sini yang harus ada dan dipahami secara gamblang:
  1. “sekumpulan orang”
Artinya organisasi terdiri minimal atas dua orang yang punya interaksi satu sama lain
  1. “tujuan” (yang sama)
Interaksi tersebut terbentuk karena memiliki visi / misi / kegiatan lain yang baik secara terstruktur atau tidak untuk mencapai sasaran spesifik atau sejumlah sasaran
Di samping dua hal wajib tersebut sebenarnya masih ada “Culture” dan “Environment”, dan mungkin di uraian di bawah akan ada lagi komponen-komponen lain yang muncul bila organisasi dipandang dari sudut yang berbeda dan yang lebih detail.
Organisasi sebagai sebuah teori dapat dipelajari dari berbagai ilmu
  1. Sosiologi (ilmu tentang sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat)
  2. Ekonomi (ilmu yang mempelajari sifat manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang/jasa)
  3. Psikologi (ilmu yang mempelajari jiwa/mental terbatas pada manifestasi dan ekspresi jiwa/mental berupa proses, tingkah laku, atau kegiatan)
  4. Politik (ilmu yang mempelajari alokasi dan transfer kekuasaan dalam pembuatan keputusan, peran dan sistem pemerintahan termasuk pemerintah dan organisasi internasional, perilaku politik dan kebijakan publik)
  5. Manajemen (seni mengatur dan melaksanakan, belum ada definisi jelas)
dan kajian-kajian terhadapnya disebut sebagai studi organisasi, perilaku organisasi, atau analisa organisasi. Dua hal ini yang membentuk perspektif dalam teori organisasi bisa bermacam-macam.
Komponen dasar sebuah organisasi dilihat dari hasil studi organisasi adalah:
  1. Anggota
  2. Tujuan
  3. Kegiatan
  4. Komunikasi
  5. Lokasi
  6. Bentuk
  7. Perilaku dan Budaya

 
Kegiatan Dalam Teori Organisasi Klasik
Teori organisasi klasik oleh Fayol (1841-1925) mengklasifikasikan tugas manajemen yang terdiri atas :
1. Technical ; kegiatan memproduksi produk dan mengoranisirnya.
2. Commercial ; kegiatan membeli bahan dan menjual produk.
3. Financial ; kegiatan pembelanjaan.
4. Security ; kegiatan menjaga keamanan.
5. Accountancy ; kegiatan akuntansi
6. Managerial ; melaksanakan fungsi manajemen yang terdiri atas :
·         Planning ; kegiatan perencanaan
·         Organizing ; kegiatan mengorganiisasikaan
·         Coordinating ; kegiatan pengkoorrdinasiian
·         Commanding ; kegiatan pengarahann
·         Controlling ; kegiatan penngawasaan
·         Selain hal tersebut diatas, asas-asa umum manajemen menurut Fayol adalah :
·         Pembagian kerja
·         Asas wewenang dan tanggungjawab
·         Disiplin
·         Kesatuan perintah
·         Kesatuan arah
·         Asas kepentingan umum
·         Pemberian janji yang wajar
·         Pemusatan wewenang
·         Rantai berkala
·         Asas keteraturan
·         Asas keadilan
·         Kestabilan masa jabatan
·         Inisiatif
·         Asas kesatuan

 
Hubungan Antar Invididu
Dalam organisasi yang dilihat dari sudut pandang hubungan struktural, pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan psikologis terhadap bawahan, yaitu dengan mengetahui perilaku individu bawahan sebagai suatu kelompok hubungan manusiawi untuk menunjang tingkat produktifitas kerja. Sehingga ada suatu rekomendasi bagi para pemimpin organisasi bahwa organisasi itu adalah suatu sistem sosial dan harus memperhatikan kebutuhan sosial dan psikologis karyawan agar produktifitasnya bisa lebih tinggi.

 
Bentuk Organisasi
  1. Organisasi Struktural
Pada umumnya adalah sebuah organisasi formal yang memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang mengatur operasionalitas dan hubungan antar lembaga dan manusia dalam organisasi tersebut. Contoh organisasi ini jelas, antara lain adalah perkumpulan / serikat / partai, perusahaan, pemerintahan (Negara sebagai sebuah organisasi besar sampai pada tingkat pemerintahan terendah misal Rukun Tangga / Lingkungan). Organisasi struktural merupakan bentuk organisasi dengan kompleksitas tertinggi karena di dalamnya muncul berbagai kepentingan / interest terutama di sisi ekonomi dan politik.

 
  1. Organisasi tanpa bentuk
Organisasi tanpa bentuk pada umumnya diawali dari sekumpulan individu yang memiliki kebiasaan dan kebutuhan yang sama dan tidak memerlukan sebuah anggaran dasar untuk melandasi perilaku dan hubungan antar manusia dalam kesehariannya. Contoh paling sederhana adalah keluarga. Di masa teknologi virtual sekarang ini juga muncul fenomena OTB virtual juga contoh adalah sebuah group milis, virtual society, dan lain-lain, di mana keanggotaan, lokasi, dan hubungannya juga virtual walaupun memiliki kesamaan tujuan atas dasar minat atau kebutuhan. Kondisi ini semakin meng-absurd-kan dasar organisasi yaitu keanggotan, lokasi, dan hubungan, dan juga memperkaya bentuk organisasi itu sendiri.

 
  1. Organisasi majemuk
Organisasi majemuk memiliki keunikan di ketidakkonsistenan antara anggaran dasar dan dengan hubungan antar individunya. Organisasi seperti ini (umumnya) memiliki anggaran dasar yang jelas, tetapi hubungan antar individunya lebih didasarkan sebagai hubungan sosial yang setara dan tidak bersifat fungsional. Fenomenanya adalah bukan pada ketidaktaatan individu untuk menerapkan anggaran dasar, tetapi umumnya berawal dari pada saat organisasi itu terbentuk yang lebih menerapkan hubungan sosial kekeluargaan antar individunya yang kemudian semakin menjadi semakin kompleks karena skala keanggotaan dan pembagian fungsi kerja antar individunya, juga karena organisasi tersebut mulai memerlukan hubungan dengan lingkungannya yang menuntut organisasi tersebut berbentuk secara struktural. Contohnya bisa jadi kelompok agama / sekterial dan lembaga sosial.

 
Budaya Organisasi
Perilaku dan Budaya (perilaku yang dilakukan secara konsisten dan sudah menjadi way of life) menampakkan kepribadian dari organisasi tersebut. Sebuah organisasi tanpa disadari memiliki budaya organisasi. Dalam organisasi formal, budaya organisasi perlu didefinisikan dari nilai-nilai dominan yang muncul yang kemudian ditetapkan sehingga membantu keefektifan organisasi tersebut.
Budaya organisasi meliputi:
  1. Pola kepercayaan
  2. Simbol-simbol
  3. Ritual dan Mitos
  4. Nilai praktis
Untuk menemukan budaya organisasi, perlu dipahami dari berbagai sumber antara lain:
  1. Cerita : sejarah, ruang lingkup usaha/kegiatan, hubungan usaha, orang-orang penting, dsb
  2. Ritual : kegiatan-kegiatan yang secara rutin / sering dilakukan misal pemilihan ketua, pemberian hadiah, dll
  3. Simbol material : benda atau perangkat yang sering digunakan
Budaya organisasi pada akhirnya akan menunjukkan identitas organisasi tersebut baik untuk dikenali secara internal maupun eksternal.

Pengertian, Definisi dan Arti Organisasi - Organisasi Formal dan Informal



1. Organisasi Menurut Stoner
Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama.
2. Organisasi Menurut James D. Mooney
Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
3. Organisasi Menurut Chester I. Bernard
Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
Pengertian organisasi
Organisasi adalah sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pengertian Pengorganisasian.
Seperti telah diuraikan sebelumnya tentang Manajemen, Pengorganisasian adalah merupakan fungsi kedua dalam Manajemen dan pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan, sumber-sumber, dan lingkungannya. Dengan demikian hasil pengorganisasian adalah struktur organisasi.
Pengertian Struktur Organisasi
Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen (unit-unit kerja) dalam organisasi. Struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan meninjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda tersebut diintegrasikan (koordinasi). Selain daripada itu struktur organisasi juga menunjukkan spesialisasi-spesialisasi pekerjaan, saluran perintah dan penyampaian laporan.
UNSUR – UNSUR ORGANISASI
Setiap bentuk organisasi akan mempunyai unsur-unsur tertentu, yang antara lain sebagai berikut :
Sebagai wadah atau tempat untuk bekerja sama.
Proses kerja sama sedikitnya antara dua orang
Jelas tugas dan kedudukannya masing-masing
Ada tujuan tertentu
1. Sebagai Wadah Atau Tempat Untuk Bekerja Sama
Organisasi adalah merupakan suatu wadah atau tempat dimana orang-orang dapat bersama untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan tanpa adanya organisasi menjadi saat bagi orang-orang untuk melaksanakan suatu kerja sama, sebab setiap orang tidak mengetahui bagaimana cara bekerja sama tersebut akan dilaksanakan. Pengertian tempat di sini dalam arti yang konkrit, tetapi dalam arti yang abstrak, sehingga dengan demikian tempat sini adalah dalam arti fungsi yaitu menampung atau mewadai keinginan kerja sama beberapa orang untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam pengertian umum, maka organisasi dapat berubah wadah sekumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan tertentu misalnya organisasi buruh, organisasi wanita, organisasi mahasiswa dan sebagainya.
2. Proses kerja sama sedikitnya antar dua orang
Suatu organisasi, selain merupakan tempat kerja sama juga merupakan proses kerja sama sedikitnya antar dua orang. Dalam praktek, jika kerja sama tersebut di lakukan dengan banyak orang, maka organisasi itu di susun harus lebih sempurna dengan kata lain proses kerja sama di lakukan dalam suatu organisasi, mempunyai kemungkinan untuk di laksanakan dengan lebih baik hal ini berarti tanpa suatu organisasi maka proses sama itu hanya bersifat sementara, di mana hubungan antar kerja sama antara pihak-pihak bersangkutan kurang dapat diatur dengan sebaik-baiknya.
3. Jelas tugas kedudukannya masing-masing
Dengan adanya organisasi maka tugas dan kedudukan masing-masing orang atau pihak hubungan satu dengan yang lain akan dapat lebih jelas, dengan demikian kesimpulan dobel pekerjaan dan sebagainya akan dapat di hindarkan. Dengan kata lain tanpa orang yang baik mereka akan bingung tentang apa tugas-tugasnya dan bagaimana hubungan antara yang satu dengan yang lain.
4. Ada tujuan tertentu
Betapa pentingnya kemampuan mengorganisasi bagi seorang manajer. Suatu perencana yang kurang baik tetapi organisasinya baik akan cenderung lebih baik hasilnya dari pada perencanaan yang baik tetapi organisasi tidak baik. Selain itu dengan cara mengorganisasi secara baik akan mendapat keuntungan antara lain sebagai berikut :
- Pelaksanaan tugas pekerjaan mempunyai kemungkinan dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif
Secara ringkas unsur-unsur organisasi yang paling dasar adalah :
- Harus ada wadah atau tempatnya untuk bekerja sama.
- Harus ada orang-orang yang bekerja sama.
- Kedudukan dan tugas masing-masing orang harus jelas.
- Harus ada tujuan bersama yang mau dicapai.